Untukmu Bumi Raflesia
Untukmu
Bumi Raflesia
(Desmi
Yati Arifin)
Melihat kearah
kiri dan kanan
Hal ini membuat
kuterkenang
Akan masa yang
pernah terjalankan
Masa disaat kita
disegan, kuat dan tangguh
Bumi Raflesia
julukan yang kita sandang
Akan ini bisa
kita pertahankan
Saat kita hanya
bangga dengan keadaan
Bermanja dengan
fasilitas yang ada
Wanita, pria,
waria semuanya sama
Sekarang mereka
terlihat berbeda
Lagak pakaian
dan gaya bicara
Seakan mereka
artis ibu kota
Akankah masa
yang pernah hilang kembali datang member salam
Menyambut hangat
senyum raja siang di kala senja
Akankah kita
terus berada dalam dekapan putrid malam
Dan berharap
semua jadi kenyataan, hanya semudah membalikkan telapak tangan…
Salah, salahkah
mereka yang berada dia atas
Yang selalu
memberi dan memberi perintah
Salah, salah dan
selalu salah
Dan kita tak
pernah mau mengalah
Akankah masa
yang pernah hilang kembali datang memberi salam
Dulu, dahulu
sekali ibu negara dan bapak negara Soekarno pernah bermalam disini
Kenapa kamu juga
tidak diakui dimata negarinya sendiri?.
Bengkulu, 15
November 2014
Ironi
Lampu di Pantai Panjang
(
Desmi Yati Arifin)
Ketika lampu pantai menutup usia
Aku bersandar di sela-sela usiamu yang rapuh,
Kini kita di persimpangan yang salah satunya
berpalang
Apakah kau akan bertahan,
Atau mengalir bersama sisa hujan?
Kita memang tahu, bahwa buliran hujan akan menjadi
satu,
Pada datarnya tanah yang menanti
Namun, mengapa kita takut tenggelam
Padahal kecipak sepat tak seramai gemericik jarum
bening yang menitik
Menusuk wajah kita yang menantang surya
Selangkangan warna di sudut senja menyapa
Mengukir harap pada tiap biasan yang tercipta
Semisal imaji yang bermetamorfosa
Ya senja di lampu kota mulai rapuh
Bersamaan dengan semilir ombak dipantai panjang
Bengkulu, 15 November 2014
Komentar
Posting Komentar